
Krisis BBM Di Kota Makassar, Apa Yang Kini Sebenarnya Terjadi?
Krisis BBM Tengah Menjadi Perhatian Serius Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan Dalam Beberapa Hari Terakhir, Warga Harus Menghadapi Antrean. Kendaraan bahkan mengular hingga ke badan jalan, sementara sebagian pengendara harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.
Situasi tersebut bukan sekadar persoalan antrean biasa. Dampaknya mulai merembet ke berbagai aktivitas masyarakat. Pemerintah Kota Makassar bahkan menerapkan pembelajaran daring bagi siswa TK, SD, dan SMP pada 12–19 September 2026 sebagai langkah mengurangi mobilitas masyarakat di tengah keterbatasan BBM.
Fenomena kelangkaan BBM mulai terlihat semakin jelas sejak awal September. Sejumlah SPBU di Makassar dilaporkan mengalami antrean kendaraan yang panjang. Salah satu kondisi yang paling mencolok terjadi di kawasan BTP, Jalan Perintis Kemerdekaan, dengan antrean yang di laporkan mencapai sekitar tujuh kilometer.
Stok Ada, Mengapa Masyarakat Tetap Kesulitan?
Hal yang membuat masyarakat semakin bingung adalah munculnya perbedaan antara klaim ketersediaan stok dengan kenyataan di lapangan. Sebelumnya, dalam koordinasi terkait penyaluran BBM bersubsidi, Pertamina Patra Niaga menyampaikan bahwa stok dan distribusi BBM berada dalam kondisi tersedia. Namun, pada saat yang sama, beberapa SPBU tetap mengalami kekosongan atau harus menunggu pasokan berikutnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan BBM tidak selalu berarti cadangan nasional benar-benar habis. Masalah dapat muncul pada proses distribusi, waktu pengiriman, kapasitas pelayanan SPBU, hingga lonjakan permintaan masyarakat. Ketika satu SPBU mengalami keterlambatan pasokan, pengendara biasanya akan berpindah ke SPBU lain. Akibatnya, SPBU yang masih memiliki stok justru di serbu lebih banyak kendaraan dan antreannya semakin panjang.
Krisis BBM Panic Buying Memperparah Situasi
Ketika kabar mengenai kelangkaan BBM menyebar, sebagian masyarakat cenderung mengisi bahan bakar lebih banyak dari biasanya. Mereka khawatir tidak mendapatkan BBM pada hari berikutnya. Fenomena tersebut dapat menciptakan efek domino. Permintaan yang meningkat secara tiba-tiba membuat stok di SPBU lebih cepat habis. Setelah melihat antrean semakin panjang, masyarakat lain ikut berbondong-bondong mengisi BBM.
Namun, lembaga perlindungan konsumen mengingatkan bahwa istilah panic buying tidak boleh di jadikan alasan untuk mengabaikan persoalan distribusi. Ukuran ketersediaan BBM bukan hanya jumlah stok yang ada, tetapi juga apakah masyarakat dapat memperolehnya secara mudah dan wajar. Antrean panjang dapat menyebabkan kemacetan, menghambat aktivitas pekerja, memperlambat distribusi barang, serta meningkatkan biaya operasional kendaraan. Pemerintah Kota Makassar juga menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau WFH bagi aparatur sipil negara sebagai salah satu respons terhadap kondisi tersebut.
Pemerintah Dan Pertamina Mulai Mengambil Langkah
Untuk mengurangi antrean, Pertamina Patra Niaga bersama pemerintah daerah mulai meningkatkan pelayanan dan menambah akses pengisian BBM. Salah satu langkah yang di lakukan adalah pengoperasian SPBU modular di kawasan Center Point of Indonesia (CPI) Makassar. Fasilitas tersebut di tujukan untuk menambah akses masyarakat sekaligus mengurangi kepadatan di SPBU reguler.
Perkembangan terbaru menunjukkan kondisi mulai membaik. Dari 45 SPBU yang melayani masyarakat di Makassar, lebih dari 35 SPBU atau sekitar 80 persen di laporkan sudah berada dalam kondisi antrean yang kondusif. Jika distribusi kembali stabil, antrean berkurang, dan pasokan mampu memenuhi kebutuhan harian, kondisi Makassar tentu dapat segera kembali normal. Namun, jika masalah serupa terus berulang, pertanyaan yang lebih besar akan muncul: apakah persoalannya benar-benar kekurangan BBM, atau terdapat masalah yang lebih dalam pada sistem distribusinya? Krisis BBM.