
Bantahan Nigeria Atas Tuduhan Pembunuhan Umat Kristen
Bantahan Nigeria Mengenai Klaim Pembunuhan Umat Kristen Terus Menjadi Isu Panas Dalam Hubungan Internasional. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan pernyataan keras. Ia mengancam akan mengambil tindakan terhadap Nigeria. Ancaman itu disampaikan jika pemerintah setempat terus membiarkan pembunuhan umat Kristen di negara tersebut.
Ancaman Trump bukanlah respons yang tiba-tiba. Faktanya, selama berbulan-bulan, aktivis dan politisi di Washington telah menyebarkan tuduhan serius. Tuduhan tersebut mengklaim bahwa kelompok milisi Islam secara sistematis menargetkan populasi Kristen di Nigeria. Isu sensitif ini bahkan sempat diangkat oleh komedian terkenal Bill Maher, yang menyebut adanya genosida.
Pemerintah Nigeria menanggapi klaim-klaim ini dengan tegas. Mereka menyebut tudingan tersebut sebagai penyalahgunaan representasi realitas yang parah. Selain itu, para pejabat Nigeria mengakui adanya tindak kekerasan mematikan. Namun, mereka menegaskan bahwa teroris menyerang semua orang yang menolak ideologi mereka baik Muslim, Kristen, maupun mereka yang tidak beragama.
Kontroversi ini menjadi rumit karena data yang di gunakan untuk mendukung tudingan tersebut sulit di verifikasi secara independen. Bantahan Nigeria di dukung oleh beberapa analis keamanan. Mereka mengatakan bahwa meskipun umat Kristen di serang sebagai bagian dari strategi teror, mengklaim mereka menjadi sasaran tunggal tidak berdasar. Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks ancaman keamanan yang majemuk di negara berpenduduk 220 juta jiwa ini, yang mayoritas Muslimnya berada di utara.
Tiga Pilar Ancaman Keamanan Yang Tidak Boleh Di Samakan
Ancaman pertama adalah kelompok-kelompok jihadis, seperti Boko Haram dan Negara Islam Provinsi Afrika Barat (ISWAP). Kelompok Boko Haram telah aktif sejak 2009 dan di kenal karena kebrutalannya, termasuk penculikan. Meskipun demikian, aktivitas mereka terkonsentrasi di wilayah timur laut, dan sebagian besar korbannya justru adalah populasi muslim setempat yang menolak ideologi mereka.
Ancaman kedua dan yang paling di salahpahami adalah konflik antara penggembala Fulani dan komunitas petani. Para penggembala ini mayoritas adalah etnis muslim. Akan tetapi, banyak peneliti menolak menyebut rentetan pembunuhan ini sebagai konflik agama. Bentrokan ini seringkali di picu oleh ketegangan etnis dan persaingan ketat dalam memperebutkan akses tanah dan air.
Analis keamanan Christian Ani berpendapat bahwa konflik penggembala-petani “tidak ada hubungannya dengan itu [agama]”. Menurutnya, ini lebih berkaitan dengan unsur-unsur kriminal dan kejahatan. Oleh karena itu, mengategorikan para penggembala Fulani sebagai “jihadis”, seperti yang di lakukan beberapa laporan LSM, adalah pernyataan yang berlebihan. Ancaman ketiga melibatkan jaringan kriminal yang brutal, yang di kenal di Nigeria sebagai bandit. Kelompok ini terlibat dalam penculikan massal dan memiliki rekam jejak membunuh muslim maupun Kristen di wilayah barat laut Nigeria.
Kontroversi Data Pembunuhan Dan Bantahan Nigeria
enator Texas, Ted Cruz, dan tokoh publik lainnya sering merujuk pada angka-angka mengkhawatirkan. Angka tersebut berasal dari laporan yang di terbitkan oleh International Society for Civil and Rule Law (InterSociety). InterSociety adalah sebuah organisasi non-pemerintah. Senator Cruz, misalnya, mengutip bahwa sejak 2009, lebih dari 50.000 orang Kristen di Nigeria telah di bantai. Laporan InterSociety pada Agustus lalu mengklaim kelompok jihadis telah membunuh lebih dari 100.000 orang Kristen selama 16 tahun terakhir. Selain itu, laporan yang sama juga mencatat sekitar 60.000 muslim moderat turut tewas.
Namun demikian, sulit untuk menilai keakuratan angka-angka ini. InterSociety tidak membagikan daftar sumber yang transparan atau terperinci. Organisasi tersebut berdalih bahwa hampir mustahil untuk mereproduksi semua laporan kami dari tahun 2010. Mereka hanya mengambil statistik ringkasan lama dan menambahkannya ke temuan terbaru mereka.