Hilirisasi

Hilirisasi Garam: Strategi KKP Stop Impor Dan Swasembada 2027

Hilirisasi Garam Nasional Sebagai Langkah Strategis Untuk Menghentikan Impor Dan Mencapai Swasembada Garam Pada Tahun 2027. Kebijakan ini menjadi bagian dari transformasi sektor kelautan dan perikanan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan industri pengolahan serta peningkatan nilai tambah di dalam negeri Hilirisasi.

Isu garam sebenarnya bukan persoalan baru. Selama bertahun-tahun, Indonesia masih bergantung pada impor, terutama untuk kebutuhan garam industri dengan spesifikasi tinggi. Padahal, sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki potensi produksi garam yang sangat besar. Tantangannya bukan sekadar kuantitas, melainkan kualitas dan konsistensi pasokan. Hilirisasi garam berarti membangun ekosistem produksi dari hulu ke hilir. Artinya, pemerintah tidak hanya mendorong petambak untuk meningkatkan hasil panen Hilirisasi.

Peningkatan Kualitas Garam Agar Memenuhi Standar Industri

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci agar garam nasional mampu bersaing secara kualitas. Selama ini, garam rakyat umumnya memiliki kadar NaCl di bawah standar industri (≥97%), sehingga sektor makanan-minuman, farmasi, dan kimia masih mengandalkan impor.

  • Melalui hilirisasi, pemerintah menargetkan:
  • Peningkatan Kualitas Garam Agar Memenuhi Standar Industri.
  • Integrasi tambak garam dengan industri pengolahan.
  • Peningkatan kesejahteraan petambak.
  • Pengurangan ketergantungan impor secara bertahap.

Dengan pendekatan ini, nilai ekonomi garam tidak berhenti di tingkat produksi bahan mentah, tetapi berkembang menjadi komoditas strategis bernilai tinggi. Untuk mempercepat program tersebut, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Regulasi ini menjadi landasan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam mengembangkan sektor garam secara terintegrasi.

Program Hilirisasi Garam Menghadapi Sejumlah Tantangan

Selain itu, pemerintah juga membangun gudang penyimpanan (warehouse) untuk menjaga stabilitas pasokan sepanjang tahun. Selama ini, salah satu kendala utama produksi garam rakyat adalah ketergantungan pada musim kemarau, sehingga produksi sering tidak stabil.

Tantangan Menuju Swasembada

Meski optimistis, Program Hilirisasi Garam Menghadapi Sejumlah Tantangan, antara lain:

Cuaca dan perubahan iklim

Produksi garam sangat bergantung pada kondisi cuaca. Curah hujan tinggi dapat menurunkan produktivitas tambak.

Kualitas dan standarisasi

Dibutuhkan investasi besar untuk membangun fasilitas pemurnian agar kualitas garam lokal setara dengan impor.

Kepastian pasar

Industri harus diyakinkan bahwa garam lokal memiliki kualitas dan kontinuitas pasokan yang terjamin.

Pembiayaan dan investasi

Hilirisasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan swasta, terutama dalam pembangunan refinery dan industri turunan.

Pembangunan Sentra Garam Industri Di Berbagai Daerah Potensial

Namun demikian, pemerintah menyadari bahwa transisi menuju swasembada membutuhkan waktu. Untuk sementara, impor garam industri masih dibuka secara terbatas guna memenuhi kebutuhan sektor strategis. Kebijakan ini bersifat transisional sampai produksi dalam negeri benar-benar mampu mencukupi kebutuhan nasional. Langkah bertahap ini penting agar industri dalam negeri tidak terganggu, terutama sektor makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur kimia yang sangat bergantung pada pasokan garam berkualitas tinggi.

Salah satu fokus utama pengembangan adalah Pembangunan Sentra Garam Industri Di Berbagai Daerah Potensial, termasuk di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini di nilai memiliki kondisi iklim yang sangat mendukung produksi garam berkualitas karena tingkat penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan relatif rendah. Model yang di kembangkan bukan lagi tambak tradisional semata, melainkan tambak modern dengan teknologi geomembran dan sistem evaporasi terkontrol Hilirisasi.